Rusia-AS Bersitegang soal Rudal Nuklir,bagaimana tanggapan Indonesia ?

Pemerintah Indonesia ikut membahas masalah-masalah antara Amerika Serikat dan Rusia yang baru-baru ini, membahas maksud Presiden Donald Trump yang menarik AS keluar dari perjanjian-perjanjian peningkatan emisi yang dilakukan oleh tiga negara, yang diteken dengan Rusia.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengumumkan akan menarik Amerika Serikat keluar dari Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (INF) 1987. Alasannya, ia menuduh Rusia Melawan Traktat INF jika ingin mengembangkan rudal nuklir –yang kemudian dibantah oleh pihak lain Rusia.

Traktat INF melarang penempatan rudal jarak pendek hingga menengah berdasarkan darat –dengan jangkauan antara 500 dan 5,500 kilometer– di kawasan Eropa. Perjanjian itu membuat kawasan Benua Biru steril dari silo atau fasilitas peluncur misil-misil percobaan selama lebih dari tiga percobaan, sejak perjanjian itu disetujui oleh Presiden Ronald Reagan dan Pemimpin Uni Soviet (pendahulu Rusia) Mikhail Gorbachev pada 8 Desember 1987.

Trump pun mengatakan akan meningkatkan jumlah penempatan senjata setelah AS keluar dari Traktat INF.

Menanggapinya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, “Jika bom kembali dipasok ke Eropa (oleh AS), maka tentu saja kami harus setuju dengan cara yang sama.”

Merespons hal tersebut, pemerintah Indonesia mengatakan, “perjanjian itu (Traktat INF) adalah upaya untuk mencegah agar tidak terjadi proliferasi (memenangkan) senjata nuklir,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir di Jakarta, Kamis.

“Kita mengharapkan agar negara-negara mengambil langkah, bukan hanya untuk mencegah proliferasi, tetapi juga memperbaiki perdamaian,” tambah Arrmanatha.

Sebelumnya, Donald Trump mengatakan bahwa Rusia telah berhasil “Traktat INF dengan terus mengembangkan senjata nuklir. “Amerika Serikat tidak akan membiarkan Rusia lolos begitu saja (dari pindah itu) sementara mereka terus mengembangkan senjata. Kami tidak akan mengajaknya,” lanjut Trump pada 20 Oktober lalu.

Merespons keputusan Trump, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, “Sangat berbahaya untuk perjanjian keamanan global … sekarang tidak akan ada yang harus dikeluarkan kecuali hasrat berlomba-lomba membuat senjata nuklir,” katanya.

Putin juga menambahkan, Rusia khawatir tentang masa depan perlindungan senjata menjadi tidak jelas tentang langkah sepihak AS yang telah keluar dari perjanjian Anti-Ballistic Missile 1972 (ABM) pada tahun 2002, ingin membuka Traktat INF, dan suramnya untuk memulai.

Menurut data Federasi Ilmuwan Amerika, Rusia memiliki sekitar 7.000 senjata nuklir, sementara Amerika Serikat memiliki sekitar 6.800.

Sumber: https://www.liputan6.com/global/read/3676738/rusia-as-bersitegang-soal-rudal-nuklir-ini-tanggapan-indonesia

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: