Menakar Masa Depan Mobil Listrik di Indonesia

kabar-energi.com – Pemerintah Indonesia saat ini tengah gencar mempromosikan penggunaan kendaraan listrik, seperti mobil listrik, untuk digunakan di dalam negeri. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pun berangan-angan agar kendaraan listrik bisa berkeliaran di jalanan ibu kota dalam jumlah yang masif.

Kenapa begitu? Saat ini, penggunaan mobil listrik memang tengah digandrungi di beberapa negara di dunia, misalnya China, Inggris, Amerika Serikat (AS) telah lebih dahulu mengembangkan dan mendorong penggunaan mobil listrik. Salah satu alasan utamanya yakni karena ramah lingkungan.

Namun, di Indonesia, selain ramah lingkungan, kendaraan listrik dinilai bisa menjadi solusi untuk mengurangi impor BBM di dalam negeri. Tapi, benarkah begitu?

Menurut Sushant Gupta, Direktur Peneliti Wood Mackenzie, ia memprediksi hingga 2027, pertumbuhan mobil listrik di Indonesia akan sangat minimum. Sampai saat itu populasi mobil listrik hanya akan berada di kisaran 5.000-10.000 unit. Sangat kecil dibandingkan dengan total populasi mobil konvensional yang mencapai 15 juta unit.

Setelah itu pertumbuhannya akan pesat, diprediksi pada 2040, populasi mobil listrik di Indonesia akan mencapai 3,5 juta unit. Akan tetapi pada saat itu, jumlah mobil konvensional juga akan meningkat hingga 50 juta unit. Artinya, porsi mobil listrik masih akan tetap kecil dibandingkan dengan mobil konvensional, bahkan pada 2040 sekalipun.

Dampaknya, permintaan akan bensin cenderung tidak terpengaruh banyak dengan adanya mobil listrik. Sushant memperkirakan pada tahun 2040, populasi mobil listrik yang sebesar 3,5 juta unit hanya bisa mengurangi konsumsi bensin sebesar 60.000 barel/hari. Padahal saat itu konsumsi bensin mencapai 950.000 barel/hari bila tidak ada mobil listrik.

Sedangkan dalam jangka menengah (hingga 2027) permintaan bensin hanya akan terpangkas sebesar 30.000 barel/hari. Jumlah yang cukup kecil dibandingkan dengan konsumsi bensin yang akan mencapai 700.000 barel/hari. Hanya berkurang sekitar 4,3%.

Dengan demikian, alasan adaptasi teknologi mobil listrik lebih condong untuk kesehatan lingkungan. Dengan mengurangi emisi gas buang kendaraan bermotor, atmosfer bumi memang akan lebih terpelihara.

Pasalnya bila produksi minyak di Indonesia tidak ditingkatkan, impor minyak akan terus meningkat. Ujung-ujungnya transaksi berjalan akan terus terbebani. Devisa akan berhamburan ke luar negeri. Belum lagi ditambah beban subsidi yang meningkat bila benar akan memberikan insentif untuk kendaraan listrik.

Tidak hanya itu, Sushant juga menyebutkan, setidaknya ada tiga faktor kunci yang menjadi hambatan pertumbuhan kendaraan listrik, yaitu teknologi baterai, infrastruktur pengisian daya, dan ketersediaan energi listrik.

Saat ini harga baterai untuk kendaraan listrik berada di kisaran US$ 200/kwh. Sebuah mobil listrik ukuran sedang (ukuran mobil penumpang biasa) rata-rata menggunakan kapasitas baterai 60 kwh untuk mencapai jarak 250-300. Alhasil, harga rata-rata baterai untuk satu mobil mencapai US$ 12.000, atau setara dengan Rp 171.600.000 (kurs Rp 14.300/US$). Pada posisi tersebut, harga mobil listrik (bila tidak disubsidi) akan lebih mahal sekitar 30-35% dibanding mobil konvensional.

Diprediksi pada 2027, harga baterai akan turun menjadi US$ 100/kwh, atau terpangkas setengahnya. Pada saat itu, harga dari kendaraan listrik menjadi sangat kompetitif dibandingkan dengan kendaraan konvensional. Setelah 2027 pertumbuhan kendaraan listrik akan semakin pesat.

Selain itu, pos pengisian baterai mobil yang masih jarang ditemui sudah tentu akan membuat calon pembeli akan berpikir dua kali. Pasalnya bila pengisian daya baterai masih sulit untuk dilakukan, malah akan menghambat mobilitas.

Dalam hal ini, pemerintah memainkan peran besar untuk mendorong pembangunan infrastruktur yang memadai untuk pengisian baterai. Dorongan kepada pelaku usaha dan pengelola fasilitas umum untuk menyediakan pos pengisian baterai perlu dilakukan bila ingin mendukung pertumbuhan mobil listrik.

Dorongan juga dibutuhkan dalam hal penanaman investasi pada industri kendaraan listrik. Contohnya, pemerintah bisa menarik minat investor untuk berinvestasi di sektor manufaktur baterai dan komponen lain yang dibutuhkan dengan cara memberikan insentif pajak dan sebagainya.

Apalagi Indonesia memiliki sumber daya alam yang diperlukan untuk pembuatan baterai, seperti nikel dan kobalt. Membuat investasi terkait baterai untuk kendaraan listrik lebih menarik.

Nah, untungnya, menurut Sushant, ketersediaan listrik di Indonesia sudah cukup untuk mendukung penggunaan kendaraan listrik. Akan tetapi, bila ada banyak mobil listrik yang melakukan pengisian baterai pada saat yang bersamaan, seperti pada malam hari, maka beban puncak (peak load) listrik perlu ditingkatkan.

Memang, saat ini sudah ada beberapa investor yang sudah menyatakan ketertarikan untuk membangun fasilitas pendukung ekosistem mobil listrik, seperti Hyundai. Tetapi, tidak cukup hanya menunggu, pemerintah perlu membuat investasi di industri kendaraan listrik ini lebih menarik, agar benar-benar terealisasi. [MNR/CNBC Indonesia]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: