Pola Pikir dan Kepemimpinan yang Kuat Diperlukan Dalam Smart City

kabar-energi.com – PBB memproyeksikan bahwa jumlah populasi dunia yang tinggal di kota-kota akibat urbanisasi akan meningkat 55% menjadi 68% pada tahun 2050. Pergeseran populasi dari daerah ke perkotaan yang cepat telah menyebabkan kemacetan lalu lintas dan polusi.

Dengan masalah seperti ini, kota-kota di seluruh dunia ingin mengatasi tantangan perkotaan dengan mengadopsi konsep Smart City yang mencakup mobilitasdan efisiensi. Menurut tim peneliti dari Swedia-Swiss ABB, sektor transportasi menyumbang emisi sekitar 30%. Manajer tim riset ABB bidang energi, Marija Zima, mengatakan bahwa masa depan mobilitas perkotaan akan beralih ke elektrifikasi kendaraan (Electric Vehicle).

Meskipun penjualan EV global  naik 64 persen, atau hampir 2,1 juta unit tahun lalu, dibantu oleh lonjakan penjualan di China yang mengambil setengah dari penjualan, EV masih berkontribusi 2,2 persen dari total penjualan.

Pada akhir tahun lalu, 5,4 juta EV di jalan hanya 0,4 persen dari kendaraan yang lain.

“Ini akan mengubah pola pikir secara alami, tetapi akan lebih mudah jika infrastruktur juga ada dibangun,” kata Zima.

Tahun 2013 Estonia meluncurkan jaringan stasiun pengisian listrik lebih dari 150 titik pengisian yang dipasang dalam jarak 60 kilometer untuk mendorong penggunaan EV.

“Membangun infrastruktur harus diiringi dari masyarakat bahwa mereka dapat menggunakan teknologi baru,” katanya, menambahkan bahwa kolaborasi antara sektor publik dan swasta diperlukan untuk membuat infrastruktur yang ada.

Hong Kong, salah satu kota terpadat di dunia, mentargetkan moda transportasi yang lebih ramah lingkungan dan secara bertahap mengurangi pembangkit listrik tenaga batubara dari 47 persen pada 2016 menjadi 25 persen pada 2020.

David Chung, wakil sekretaris bidang Inovasi dan Teknologi pemerintah Hong Kong, mengatakan pemerintah telah mengalokasikan hingga HK $ 78 miliar (US $ 10 miliar) untuk inovasi dan pengembangan teknologi.

Pertumbuhan EV di Hong Kong meningkat menjadi sekitar 11.000 tahun lalu meskipun hanya 1,3% dari jumlah mobil saat ini. EV didukung oleh 1.800 tempat pengisian umum yang tersebar di 1.100 km Hong Kong.

Chung mengatakan mengubah pola pikir dalam pemerintahan adalah suatu keharusan untuk mewujudkan Smart City.

“Biaya selalu menjadi pertimbangan terbesar. Tetapi setiap keputusan adalah terobosan. Karena itu, bersama-sama, kita perlu mengubah pola pikir untuk membuat kemajuan, ”tambahnya.

Direktur Smart City and Community Innovation Center (SCCiC) Institut Teknologi Bandung (ITB) Suhono Harso mengatakan ia percaya bahwa Indonesia akan mengikuti pergeseran global ke elektrifikasi.

Dia menekankan bahwa mobilitas perkotaan harus “pintar”, yang akan menghasilkan perjalanan yang terencana, nyaman, efisien dan aman bagi manusia dan lingkungan.

Cara cerdas dalam mobilitas perkotaan tidak hanya mencakup operasi komersial EV, tapi juga Peraturan Presiden (Perpres) tentang EV, informasi lalu lintas waktu yang lebih andal, kebijakan yang memadai, dan penegakan lalu lintas yang berkelanjutan.

Kemajuan seperti itu akan dicapai dengan kerja sama terpadu antara pemerintah, masyarakat dan perusahaan yang terkait dengan sistem dan layanan transportasi, serta penggunaan bersama dan penggunaan infrastruktur secara terbuka.

Namun, percepatan mobilitas cerdas seperti itu harus datang dari kepemimpinan yang kuat, kata Suhono, seperti contoh Surabaya di Jawa Timur, yang penerapan konsep kota pintar secara konsisten di bawah kepemimpinan Walikota Tri Rismaharini.

“Ini bukan semata-mata tentang teknologi, tetapi lebih dari dampak, yaitu untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Teknologi hanyalah bagian ketiga. Sisanya adalah proses dan pelibatan pemangku kepentingan, ”kata Suhono. [MNR/JP]

1 Comment
  1. […] Pola Pikir dan Kepemimpinan yang Kuat Diperlukan Dalam Smart City […]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: