Paket B20 Siap diterapkan, B100 Siap Maju

kabar-energi.com – Lonjakan pesat produksi minyak sawit Indonesia dalam satu tahun terakhir telah menyebabkan kelebihan pasokan komoditas gobal. Di dalam prinsip pasar, harga akan jatuh di bawah tekanan pasar yang kuat, akibatnya terganggunya produksi dan distribusi minyak kelapa sawit bagi masyarakat

Pemerintah sekarang telah menggunakan sejumlah kebijakan untuk mengantisipasi dan mengatasi masalah ini.

Salah satunya adalah moratorium konsesi kelapa sawit baru, memberlakukan larangan penanaman kelapa sawit di lahan gambut, menyerukan petani untuk tidak menanam kelapa sawit di area perkebunan baru dan melakukan tumpang sari di perkebunan kelapa sawit.

Program penanaman kembali diperkenalkan pada tahun 2018 sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dan output nasional, tapi sayang gagal target tidak tercapai karena masalah lahan serta kurangnya dana, pengetahuan dan kapasitas SDM

Asosiasi Produsen Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memperkirakan produksi minyak kelapa sawit mentah (CPO) nasional tahun 2018 adalah 46,17 juta ton. Ia juga memperkirakan ekspor CPO 34,71 juta ton, hanya menyisakan 11,46 juta ton untuk konsumsi domestik.

Dengan tingkat konsumsi CPO domestik tertinggi, industri diperkirakan mengonsumsi 8,4 juta ton, sementara industri oleokimia dan sabunnya dapat menyerap sekitar 845.000 ton CPO, dan sekitar 2,3 juta ton ditujukan untuk biofuel.

Ini berarti CPO yang tersisa untuk konsumsi domestik semuanya akan diserap.

Dengan produksi CPO yang diperkirakan akan tetap stagnan mengingat kelebihan pasokan saat ini, tingkat stok yang tinggi dan harga global yang rendah, ekspor minyak sawit ke pasar tradisional tidak terlihat terlalu menjanjikan. Dengan demikian, diperlukannya pasar baru dan untuk meningkatkan penyerapan komoditas dalam negeri.

Tetapi seberapa banyak konsumsi CPO domestik dapat tumbuh? Jumlah CPO yang diserap oleh industri makanan dan lemak khusus serta industri oleokimia dan sabun sangat terkait dengan populasi.

Karena peningkatan populasi yang signifikan tidak diperkirakan dalam waktu dekat, tingkat penyerapan CPO diperkirakan akan tetap stabil.

Memperluas konsumsi CPO melalui biofuel adalah alternatif yang layak untuk meningkatkan permintaan domestik dan mengurangi impor bahan bakar.

Indonesia adalah produsen minyak kelapa sawit top dunia dan mengembangkan biodiesel sebagai bahan bakar alternatif untuk mesin diesel akan sangat mendukung tidak hanya ketahanan energi, tetapi juga kecukupan ekonomi dan keberlanjutan di banyak industri seperti pertanian, transportasi dan sektor terkait.

Biodiesel juga merupakan bahan bakar terbarukan, biodegradable dan ramah lingkungan bila dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

Program biodiesel wajib B20 pemerintah membutuhkan sekitar 6,2 juta ton biodiesel tahun ini, menurut perkiraan baru-baru ini dari Rida Mulyana, direktur jenderal untuk energi baru dan terbarukan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Ini berarti akan membutuhkan 1,24 juta ton CPO, atau 780.000 ton lebih banyak dari tahun sebelumnya.

Pemerintah juga mengatakan pihaknya berencana untuk mempercepat penggunaan bahan bakar diesel dengan kandungan biofuel 30 persen (B30) di sektor transportasi tahun ini dari tahun 2020 yang semula direncanakan.

Menerapkan program B30 pada pertengahan 2019 akan semakin meningkatkan permintaan domestik untuk CPO sekitar 300.000 ton.

Dalam putaran kedua debat presiden pekan lalu, Presiden Jokowi membuat pernyataan mengejutkan bahwa Indonesia sedang bergerak ke arah penggunaan CPO murni, lebih dikenal sebagai B100, untuk mengekang penggunaan dan impor bahan bakar hidrokarbon.

Program wajib B20 saat ini masih tidak berjalan dengan lancar dan bahwa penggunaan konten biodiesel yang lebih tinggi dapat menyebabkan masalah mesin, penggunaan bahan bakar B100 hanya dimaksudkan untuk digunakan dalam generator listrik dan kendaraan.

Perusahaan listrik milik negara PLN memproyeksikan konsumsi bahan bakar diesel masih akan mencapai sekitar 3 juta kiloliter tahun ini menurut Rencana PLN 2018-2025, dan sekitar 2,5 juta liter tahun depan.

Uji coba sedang dilakukan pada penggunaan B100 untuk bahan bakar empat pembangkit diesel yang menghasilkan output gabungan dari 122 megawatt listrik. Jika uji coba dilanjutkan sepanjang tahun, ini akan menambah lagi 190.000 kiloliter penghematan minyak diesel, yang setara dengan 67.097 ton CPO.

Bayangkan berapa banyak minyak diesel dapat diganti dengan B100, mengingat total kapasitas terpasang PLN saat ini 5.889,88 MW, bisa meningkatkan permintaan CPO domestik sebesar 3,24 juta ton.

Peluang untuk memperluas penggunaan biodiesel, terutama B100, juga ada di industri lain seperti pertanian, transportasi dan sektor lain yang menggunakan mesin diesel.

Dalam laporan riset Thailand tahun lalu oleh Tongchit Suthisripok dan Pattawee Semsamran, menunjukkan bahwa B100 dapat secara efisien dan efektif digunakan sebagai bahan bakar alternatif untuk mesin diesel kecil, seperti aerator air, mesin kecil, pompa dan generator kecil yang digunakan dalam industri pertanian.

Mengingat pentingnya minyak sawit bagi perekonomian Indonesia, dan bahwa sekitar 50 juta orang bergantung pada komoditas ini, termasuk sekitar 17 juta pekerja yang dipekerjakan secara langsung dan tidak langsung di seluruh rantai pasokan minyak sawit (menurut GAPKI), jelas sangat penting untuk memperkuat CPO produksi.

Dan upaya ini tidak juga ada pada pemerintah. Setiap pemangku kepentingan, masing-masing dari kita, dapat berkontribusi dengan cara kita sendiri untuk mendukung upaya ini. [MNR/JP]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: