Startup Indonesia Berhasil Raih Nomor 1 di Asia Tenggara

kabar-energi.com – Indonesia akhirnya sejajar dengan Amerika Serikat, Tiongkok, India dan Inggris dalam hal penghasil startup di dunia. Jumlah ini telah melebihi negara lainnya seperti Iran yang butuh setidaknya 10 tahun untuk menghasilkan 1.000 startup.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) berhasil membina 1.307 startup Indonesia dalam kurun empat tahun, bahkan banyak startup yang telah memiliki omzet hingga Rp 1-7 miliar yang berasal dari bidang pangan dan pertanian, teknologi informasi, hingga transportasi, yang membuat Indonesia menjadi pemegang hak paten pertama di Asia Tenggara.

“Dalam startup dunia ternyata Indonesia mempunyai potensi yang besar dari anak-anak muda. Indonesia masuk peringkat lima dunia di bidang startup-nya,” kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir saat membuka Indonesia Startup Summit 2019 di Hall D2 JI Expo Kemayoran, Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Hal ini tercapai dengan belajar dari negara lainnya seperti Korea Selatan, Jepang, dan Uni Eropa. Oleh karenanya, Presiden Jokowi langsung meminta Menteri Keuangan mengalokasikan anggaran khusus untuk pengembangan startup.

Salah satu startup binaan Kemenristekdikti di bidang transportasi, berhasil membuat motor listrik Gesit, dimana baterainya didesain removable sehingga memudahkan penggantian selama perjalanan dan menghilangkan kekhawatiran terkait daya tempuh.

Waktu charging 3-4 jam, menggunakan baterai Lithium Ion 5.000 Wh dengan dan dapat dipantau menggunakan smartphone berbasis Android.

Sementara dari transportasi laut, startup Indonesia membuat kapal plat datar yang saat ini sedang berlayar dari Jakarta menuju Bintuni Papua.

Dalam bidang energi, Indonesia beruha mengupayakan renewable energy yang berasal dari minyak kelapa sawit untuk dijadikan bahan bakar minyak (BBM), sehing dapat mengurangi impor BBM yang saat ini mencapai 1.000 barel per tahun  setara 17 miliar dolar AS atau Rp250 triliun.

“Kalau bisa BBM dari palm oil berarti ke depan Indonesia tidak perlu impor BBM lagi kita dorong ini. Kalau BBM sudah tidak impor lagi maka pengguna motor berubah menggunakan motor Gesit. Motor bensin tinggalkan, beralih kepada motor listrik,” ucap M. Nasir [MNR]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: