Gojek Capai Transaksi Rp127 Triliun, Setara Korporasi Kakap?

kabar-energi.com – PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) mengumumkan gross transaction value (GTV)sepanjang tahun 2018 senilai US$9 miliar di 204 kota dan kabupaten di  lima negara Asia Tenggara. Nilai tersebut diklaim tumbuh sebanyak 13,5 kali lipat selama 2016-2018.

Nilai transaksi bruto atau GTV dan nilai barang dagangan bruto atau gross merchandise value (GMT) adalah ukuran yang sering digunakan oleh perusahaan berbasis digital. Indikator ini digunakan untuk mengukur nilai transaksi yang diproses melalui situs web atau aplikasi perusahaan digital.

Founder dan CEO Gojek Nadiem Makarim menyatakan bermula dari bisnis call center dengan 20-30 pengemudi,  Gojek kini berkembang menjadi aplikasi super yang memiliki 21 layanan mulai dari transportasi dan pembayaran,  pesan-antar makanan,  logistik dan masih banyak lainnya. Ekosistemnya juga menghubungkan pelanggan dengan 1,7 mitra pengemudi,  lebih dari 300 ribu pedagang makanan dan minuman,  serta lebih dari 600 ribu penyedia layanan.

“Kami bangga dan bersyukur karena konsep buatan anak bangsa tidak hanya memberikan manfaat di Tanah Air tetapi juga di Asia Tenggara, ” ujarnya dalam acara Mitra Juara Gojek, Kamis (11/4/2019).

GTV dan GMV adalah akumulasi nilai pembelian atau order dari pengguna aplikasi dalam periode tertentu. GTV dan GMV bukan pendapatan atau revenue karena tidak semua nilai transaksi yang dilakukan melalui aplikasi masuk ke kantong pemilik aplikasi.

Sebagai contoh perusahaan dagang-el, dapat menjual barang dagangan sendiri atau sebatas sebagai marketplace tempat pedagang lain mencari pembeli. Jika barang yang terjual lewat aplikasi adalah barang milik sendiri, seluruh nilai transaksi tersebut bisa dicatat sebagai pendapatan. Sebaliknya, hanya sebagian nilai transaksi yang dilakukan melalui marketplace bisa dicatat sebagai pendapatan, misalnya, dalam bentuk fee.

Hal lain yang membedakan GTV atau GMV dari pendapatan adalah diskon. Untuk mengukur pendapatan bersih, perusahaan harus menguranginya dengan beragam diskon dan biaya pemasaran yang dikeluarkan untuk mendorong penjualan. GTV dan GMV tidak. Ini sangat signifikan karena perusahaan digital biasanya agresif memberikan beragam diskon dan dalam mengucurkan biaya pemasaran.

Perusahaan Rintisan Bervaluasi US$1 Miliar atau Lebih di Asia. (Sumber: CB Insights)

Jika GTV Gojek yang mencapai US$9 miliar atau sekitar Rp127 triliun pada 2018 diperlakukan sebagai pendapatan, perusahaan yang bermarkas di samping terminal Blok M di Jakarta, maka layak duduk sebagai posisi sebagai salah satu perusahaan terbesar di Bursa Efek Indonesia.

Menurut Bloomberg, pencapaian Gojek hanya bisa diungguli oleh PT Astra International Tbk. yang membukukan pendapatan Rp239,21 triliun pada 2018. Nilai GTV Gojek setara dengan nilai pendapatan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. yang mencapai Rp129,76 triliun dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk. yang senilai Rp128,26 triliun, namun GTV tidak bisa digunakan untuk membandingkannya dengan korporasi yang telah melantai di bursa.

Dengan membandingkan angata GMV pendapatan dalam laporan kinerja Sea Ltd., induk usaha Shopee yang terdaftar di bursa Amerika Serikat. Sea Ltd. melaporkan pendapatan dari bisnis dagang-el senilai US$269,58 atau hanya sekitar 2,7% dari GMV Shopee yang melampaui US$10 miliar pada 2018. Sedangkan, Uber mencatatkan pendapatan US$11,3 miliar dari total nilai order (setara dengan GTV) US$50 miliar pada 2018.

Mengenai santer kabar tentang decacorn, perusahaan teknologi dengan valuasi lebih dari US$10 miliar, yang santer beredar,  Nadiem menyatakan valuasi perusahaan bukanlah hal yang diumumkan perusahaan.  Menurutnya,  pihaknya lebih mengedepankan dampak sosial ketimbang valuasi perusahaan.

Nilai GTV yang diumumkan Gojek lebih pas digunakan sebagai pembanding dengan nilai ekonomi digital di Indonesia secara keseluruhan. Acuannya, yakni riset yang di lakukan Google dan Temasek tentang ekonomi internet di Asia Tenggara. Google dan Temasek merupakan investor di Gojek.

Google dan Temasek memprediksi jumlah pasar ekonomi digital di Indonesia sepanjang 2018 adalah sebesar US$27 miliar. Artinya, Gojek berkontribusi terhadap sepertiga transaksi di dalam bisnis dagang-el, agen perjalanan, media daring, dan berbagi kendaraan di Tanah Air.

Bahkan GTV Gojek melampaui proyeksi Google dan Temasek tentang GMV bisnis transportasi dan pesan-antar makanan di Indonesia senilai US$3,7 miliar. Angka ini mengindikasikan bisnis Gojek sudah berkembang jauh lebih besar dari layanan pesan antar dan transportasi daring, terutama setelah pesaing utamanya yaitu Grab, mengklaim menguasai 62 persen pasar transportasi daring di Indonesia. [MNR]

 

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: