Ketua DPR Minta Pertamina Lakukan Ini, Akibat Defisit Neraca Migas

kabar-energi.com- Defisit migas kembali bengkak April ini, berdasar data Badan Pusat Statistik defisit menyentuh US$ 1,49 miliar atau setara Rp 21 triliun.

Ketua DPR Bambang Soesatyo pun menaruh perhatian atas isu ini, ia pun meminta para pemangku kepentingan untuk menerapkan kebijakan yang bisa mencegah defisit semakin dalam. Terutama untuk PT Pertamina (Persero), BUMN migas yang memikul transaksi impor ekspor minyak negara.

Dalam keterangan tertulisnya, Bambang mengatakan impor migas berkontribusi besar terhadap defisit neraca perdagangan pada April 2019. “Sementara itu ekspor migas turun 37% dibandingkan April 2018, salah satunya disebabkan karena hasil eksplorasi minyak yang dilakukan Pertama di luar negeri dan di bawa ke dalam negeri tercatat sebagai barang impor,” tulisnya.

Oleh sebab itu, Bambang meminta Pertamina melakukan 3 hal. Pertama adalah mengoptimalkan terlebih dahulu penyerapan minyak mentah dalam negeri yang seharusnya untuk ekspor, dikelola di kilang minyak dalam negeri, sebagai salah satu upaya turunkan nilai impor migas.

Kedua, mendorong Pertamina rutin mencatat investasi di luar negeri dalam neraca pendapatan primer agar dapat kurangi jumlah defiist pada neraca pendapatan primer. Lalu, mendorong Pertamina untuk dapat memproduksi avtur dan solar dari minyak mentah yang diproduksi dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), sehingga dapat mengurangi jumlah impor pada dua bahan bakar tersebut, mengingat pemerintah berencana mengurangi impor avtur dan solar pada Juni 2019.

Selain Pertamina, Bambang juga mendorong Kementerian ESDM untuk memperhatikan dampak nilai ekspor migas dalam menekan defisit neraca perdagangan. [05/CNBCIndonesia]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: