Capai Rekor Rp 978 T, Obligasi Indonesia di Serbu Asing

kabar-energi.com – Dana investor asing yang masuk ke pasar surat utang negara (SUN) rupiah sudah mencapai Rp 978,65 triliun, atau bertambah Rp 85,4 triliun sejak awal tahun hingga 24 Juni lalu dan sekaligus menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah penerbitan surat utang dari sisi nilai.

Data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR) per 24 Juni 2019 menunjukkan angka tersebut mencerminkan porsi 38,76% dana asing terhadap total surat berharga negara (SBN) yang beredar senilai Rp 2.525 triliun.

Meskipun demikian, secara persentase, porsi investor asing di pasar SUN belum menembus rekor 41,48% yang tercatat pada 29 Januari tahun lalu.

Masuknya investor asing ke pasar obligasi rupiah itu seiring dengan reli panjang penguatan harga yang masih berlanjut pada Rabu hari ini (26/6/2019) serta bertambahnya jumlah utang yang diterbitkan pemerintah.

Reli panjang yang terjadi sejak 31 Mei sempat berhenti Senin pekan ini, tetapi berbalik menguat kembali dan berlanjut hingga hari ini.

Meskipun fluktuatif, jumlah kepemilkan asing di pasar SUN terus bertambah secara bertahap sejak akhir 2018 yang baru mencapai Rp 893,25 triliun dengan porsi 37,71% terhadap seluruh obligasi pemerintah rupiah yang tercatat Rp 2.368 triliun.

Pada awal perdagangan hari ini, harga obligasi rupiah pemerintah kembali melanjutkan penguatan yang terjadi kemarin.

Sentimen positif kali ini kembali datang dari ekspektasi terhadap penurunan suku bunga acuan domestik dan global, terutama dari Amerika Serikat.

Besarnya ekspektasi penurunan suku bunga itu masih mempengaruhi pasar obligasi meskipun baru akan terealisasi bulan depan.

Naiknya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan koreksi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain.

Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder.

Yield yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah SBN konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum.

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling menguat adalah FR0068 yang bertenor 15 tahun dengan penurunan yield 8,1 basis poin (bps) menjadi 7,77%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

Yield Obligasi Negara Acuan 26 Jun’19

Seri Jatuh tempo Yield 25 Jun’19 (%) Yield 26 Jun’19 (%) Selisih (basis poin) Yield wajar IBPA 26 Jun’19
FR0077 5 tahun 6.87 6.874 0.40 6.8654
FR0078 10 tahun 7.448 7.43 -1.80 7.3964
FR0068 15 tahun 7.853 7.772 -8.10 7.7403
FR0079 20 tahun 8.026 7.993 -3.30 7.9682
Avg movement -3.20

Sumber: Refinitiv

Apresiasi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 542 bps, menyempit dari posisi kemarin 545 bps.

Yield US Treasury 10 tahun naik hingga 2% dari posisi kemarin 1,99%.

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada tenor 3 bulan-5 tahun dan 3 bulan-10 tahun, yang lumrah terjadi sejak perang dagang China-AS memanas pada April lalu.

Saat ini pelaku pasar global lebih menantikan inversi yang terjadi pada tenor 3 bulan-10 tahun yang mulai terjadi pada awal tahun tetapi timbul dan tenggelam, sebagai indikator yang lebih menegaskan kembali bahwa potensi resesi AS semakin dekat dibanding inversi tenor lain.

Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang.

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.

Penguatan di pasar surat utang hari ini juga terjadi di pasar ekuitas yang naik 0,04%, sedangkan rupiah masih melemah 0,32% terhadap dolar AS.

Dari pasar surat utang negara berkembang, koreksi masih terjadi secara luas di mana penguatan hanya terjadi di China, Singapura, dan Thailand.

Di negara maju, penguatan hanya terjadi di pasar gilt Inggris. [05/CNBC Indonesia]

 

 

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: