Moda Transportasi Bus listrik Jakarta Terganjal Regulasi

Petugas memperagakan cara mengisi ulang daya bus Transjakarta bertenaga listrik dalam Pameran Busworld South East Asia ke-8 di Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, Rabu, 20 Maret 2019. Indonesia sendiri memang tengah serius menyambut pergeseran tekonologi dari mobil konvensional menuju mobil berbahan bakar listrik. (Foto: Tempo)

kabar-energi.com – Program bus listrik di Ibukota Jakarta, yang dipuji oleh banyak orang sebagai salah satu cara untuk mengurangi polusi udara

Kendati Demikian Bus listrik Transjakarta tidak dapat turun ke jalan karena mereka belum mendapatkan sertifikat pendaftaran kendaraan (STNK).

Dewanto Purnacandra, Kasubdit Uji Tipe Kendaraan Bermotor Direktorat Sarana Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan mengatakan bahwa kementerian belum mendapatkan perangkat yang diperlukan untuk menguji baterai bus listrik.

Tetapi, kementerian tersebut masih dapat menguji komponen-komponen bus lainnya, seperti rem dan lampu.

Dewanto menambahkan bahwa kementerian masih bisa mengeluarkan sertifikat uji jenis kendaraan berdasarkan laporan uji dari produsen bus yang dilakukan di luar negeri.

Merupakan tanggung jawab produsen bus untuk mendapatkan sertifikat. Sebagai operator bus, Transjakarta hanya perlu menunggu mereka menyelesaikan sertifikasi.

“Bus-bus dari PT Mobil Anak Bangsa (MAB) sedang menjalani sertifikasi, sedangkan bus-bus dari BYD Automobile masih perlu diuji ulang,” ujar Dewanto kamis (26/6/2019)

MAB dan produsen mobil listrik Cina BYD Automobile merupakan produsen bus listrik yang menandatangani nota kesepahaman dengan Transjakarta pada bulan Maret untuk memproduksi bus listrik. Transjakarta telah menyiapkan dua stasiun pengisian untuk bus listrik

Direktur Utama Transjakarta Agung Wicaksono mengatakan dalam sebuah acara diskusi pada 23 Juni 2019, bahwa pemerintah kota hanya memiliki peraturan tentang uji coba gratis untuk bus listrik.

Uji coba dilakukan awal bulan ini dengan tiga bus listrik, dan mendapat sambutan hangat dari para penumpang.

Bus-bus itu dikerahkan di dekat tiga tempat wisata, yaitu Monumen Nasional (Monas) di Jakarta Pusat, taman budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta Timur, dan taman rekreasi Ancol Dreamland di Jakarta Utara.

Sementara uji coba operasional berbayar untuk bus listrik di Koridor 1 (lingkaran lalu lintas Senayan-Kota) dan Koridor 6 (Ragunan-Kuningan) selama enam bulan.

Usulan peraturan presiden tentang kendaraan listrik (EV) telah dibahas semenjak 2017. Namun, rancangan tersebut masih ditinjau oleh Sekretariat Negara.

Sementara Pakar kebijakan publik, Agus Pambagio, mengatakan bahwa rancangan peraturan tersebut EV tidak menyebut kendaraan listrik sebagai moda transportasi umum dan kurangnya pendanaan untuk pengembagnan EV. Oleh karenanya peraturan tersebut telah melalui beberapa revisi.

“Peraturan presiden sedang dalam proses,” katanya, “namun jika terlalu lama menunggu, kita harus mendorong peraturan Menteri Perhubungan sebagai gantinya.”

Peraturan ini diharapkan berfungsi sebagai payung hukum bagi produsen dan pengguna EV serta memberikan insentif bagi pembeli EV.

Salah satu insentif akan menjadi pajak barang mewah yang lebih rendah karena akan didasarkan pada emisi karbon daripada kapasitas mesin.

Agus menyarankan agar Jakarta mengikuti inisiatif EV Norwegia, yang membuat bus bebas pajak dalam 10 tahun pertama operasi mereka. [05]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: