Tambang Batubara Ombilin di Sawahlunto Ditetapkan Sebagai Situs Warisan Dunia

Warisan sejarah: Museum Goedang Ransoem di Sawahlunto, Sumatera Barat, adalah bagian penting dari sejarah kota. Itu digunakan sebagai dapur umum untuk melayani penambang batubara selama era kolonial Belanda

kaba-energi.com – Dalam sidang United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dalam sesi ke-43 Pertemuan Komite Warisan Dunia di Kota Baku, Azerbaijan Sabtu  6 Juli 2019, dimana Tambang Batu Bara Ombilin (TBBO) Sawahlunto, Sumatera Barat resmi ditetapkan sebagai salah satu situs warisan dunia

Dimana dikenal sebagai tambang batu bara tertua di Asia Tenggara, Sawahlunto terletak di antara perbukitan Polan, Pari, dan Mato.

Willem Hendrik de Greve Ahli geologi dari Belanda menemukan bahwa potensi penambangan batu bara yang signifikan di tepi Sungai Ombilin pada tahun 1867.

Kegiatan penambangan pertama kemudian dilakukan di desa Sungai Durian sebelum pemerintah Belanda membangun perusahaan penambangan batubara pada tahun 1888.

Konstruksi berlanjut sampai 1891 dan perusahaan mulai beroperasi pada 1892 dengan produksi awal 47.833 ton. Bahkan, pada 1930, produksi batubara di Sawahlunto berhasil memenuhi 90% kebutuhan Hindia Belanda.

Namun, kejayaan tambang batubara mulai menurun ketika Jepang tiba dan mengambil alih Sawahlunto. Tetapi sejak kemerdekaan Indonesia, kembali dikelola oleh pemerintah Indonesia

Pada akhir abad ke – 19  pemerintah kolonial Belanda telah membangun jaringan transportasi, seperti sistem kereta api yang mengirimkan batubara dari Sawahlunto ke pantai barat Sumatra, juga di bangun Pelabuhan Emmahaven (dikenal sebagai Bayur Bay), yang kemudian menjadi pelabuhan untuk mengekspor batubara menggunakan kapal uap Belanda SS Sawahlunto dan SS Ombilin.

Sawahlunto memiliki berbagai tujuan wisata, seperti Museum Penambangan Batubara Ombilin di mana pengunjung dapat belajar tentang sejarah perusahaan, alat-alat yang digunakan untuk menambang dan mengunjungi bekas lokasi penambangan yang telah diubah menjadi kebun binatang, danau dan jalur berkuda.

Beberapa bagian dari situs penambangan batubara bersejarah Sawahlunto tidak berubah, termasuk terowongan Mbah Soero, asrama pekerja dan tempat untuk menyaring batubara. [05]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: