Kelapa Sawit di Aceh Tidak Ada yang Merusak Lingkungan

kabar-energi.com – Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menegaskan tidak ada perkebunan kelapa sawit di daerahnya yang merusak lingkungan seperti berita negatif yang selama ini beredar di publik

“Tidak mungkin masyarakat Aceh merusak lingkungan, kalau hal itu dilakukan, maka minyak kelapa sawit petani Aceh tidak akan dibeli oleh negara luar,” katanya Senin (15/7/2019)

Kampanye negatif terhadap minyak sawit Indonesia mempengaruhi petani di provinsi Aceh, sehingga menyebabkan penurunan harga minyak sawit mentah (CPO) di tengah rencana Uni Eropa untuk mengurangi penggunaan komiditas tersebut.

Dari total luas lahan kebun kelapa sawit di Aceh lebih dari 140 ribu hektare, dimana sebanyak 51%  kebun kelapa sawit adalah milik rakyat atau petani. Sedangkan sisanya sebanyak 49%, merupakan lahan perkebunan milik perusahaan atau pengusaha.

Dalam upaya mendukung komoditas kelapa sawit milik petani di Aceh bisa diterima dan dibeli oleh negara luar, baru-baru ini Nova bersama pejabat kementerian RI, berangkat ke Belanda, guna meyakinkan para investor, kalangan pengusaha, dan pemerintah di kawasan Uni Eropa dimana kelapa sawit (CPO) Aceh ditanam tanpa merusak lingkungan.

Kampanye menentang penggunaan minyak sawit di Eropa telah mendorong Komisi UE untuk mengadopsi tentang energi terbarukan dimana akan menghapus penggunaan minyak sawit di sektor biofuel Uni Eropa dan melarangnya pada tahun 2030, dengan alasan bahwa produksi CPO menyebabkan deforestasi, berkurangnya keanekaragaman hayati dan peningkatan emisi gas rumah kaca.

Indonesia, produsen komoditas minyak sawit terbesar di dunia, sangat menentang peraturan tersebut dan menyebut larangan itu diskriminatif, dan telah mengirim utusan dan menteri untuk melobi Uni Eropa. [05]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: