BPK dan ESDM Serukan Transparansi Dalam Investasi Minyak dan Gas

sindonews

kabar-energi.com – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) meminta agar pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dapat menciptakan mekanisme yang lebih transparan dalam hal proses pengambilan keputusan untuk berinvestasi di sektor minyak dan gas agar kepastian hukum bisa ditegakkan.

Komisioner BPK Rizal Djalil mengatakan dalam acara dalam Seminar Nasional Memetakan Makna Risiko Bisnis dan Risiko Kerugian Keuangan Negara di Sektor Minyak dan Gas Bumi di Aula BPK RI, Senin (22/7/2019) terkait mekanisme investasi yang lebih baik dimana akan membantu menentukan apakah kerugian negara di badan usaha milik negara (BUMN) murni akibat risiko bisnis atau karena ada undang-undang yang dilanggar.

Perlu ditetapkannya aturan tentang hukum sebelum membuat suatu keputusan terkait investasi oleh BUMN. Dengan mekanisme seperti itu, BUMN tidak akan menghadapi masalah hukum jika investasi berakhir dengan kegagalan dan menyebabkan kerugian negara.

“Setiap keputusan investasi yang berasal dari dewan direksi perlu didukung oleh studi hukum. Penting juga untuk mengatur proses pengambilan keputusan dengan dewan direksi atau dewan komisaris, ”katanya, Senin (22/7/2019)

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan menekankan pentingnya kementerian dan BPK untuk memiliki saling pengertian tentang minyak dan gas, terutama dalam hal risiko investasi,  dimana sektor migas merupakan sektor yang memiliki ketidakpastian tinggi.

Selama ini banyak asumsi cadangan migas semakin lama akan semakin habis, padahal tidak yang tahu kandungan perut bumi. Maka, perlu pemahaman yang sama untuk memahami sektor tersebut. Karena itu ia meminta BPK untuk mempekerjakan para ahli di industri.

“BPK perlu merekrut para ahli di bidang geologi dan minyak dan gas sehingga baik Kementerian ESDM dan BPK memiliki saling pengertian tentang risiko dan ketidakpastian dalam eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas,” kata Jonan pada acara yang sama, Senin (22/7/2019)

Sebagai contoh ketidakpastian kegiatan hulu migas pada Lapangan Migas Banyu Urip Blok Cepu. Pada awalnya lapangan ini dikelola oleh Pertamina, namun selama 40 tahun pencarian migas dilakukan tidak mendapatkan hasil, kemudian lapangan tersebut dikembalikan ke negara.

Namun, ketika Exxon datang dan menjelajahi blok itu, mereka menemukan salah satu produksi cadangan minyak terbesar di Indonesia [05]

 

 

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: