Dampak Listrik Jawa Padam, Kerugian Rp254 miliar per Jam

kabar – energi.com – Arifin Soedjayana Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat mengungkapkan mengaku sulit menghitung kerugian yang dialami pelaku usaha di Jawa Barat dampak terjadinya listrik padam yang terjadi pada Minggu, 4 Agustus 2019 lalu.

“Kerugian yang dialami oleh perusahaan dan industri manufaktur yang disebabkan oleh pemadaman listrik, yang terjadi dua kali, sangat besar. Kami tidak bisa menghitungnya satu per satu, “katanya, kamis (8/8/2019)

Berdasarkan asumsi perusahaan, pemadaman listrik 4 jam telah menyebabkan kerugian sekitar Rp300 juta, diaman jumlah tersebut dihitung dari produksi yang tiba-tiba dihentikan, produk yang rusak, mesin yang berpotensi rusak, dan perusahaan masih harus membayar pekerja, serta bunga bank.

“Asumsinya adalah satu perusahaan menderita kerugian Rp75 juta per jam,” tambahnya.

Di Jawa Barat sendiri setidaknya terdapat 3.388 perusahaan di bidang industri. Karena itu, penilaian kerugian di kawasan industri sekitar Rp254,1 miliar per jam, belum lagi kerugian yang diderita UKM.

“Industri Kecil Menengah di luar kawasan industri juga turut terkena dampak akibat pemadaman listrik, salah satunya produsen kaos kaki yang menyatakan kerugian per hari bisa mencapai Rp 200 juta untuk yang direct-order. Opportunity lost bisa sampai Rp 500 juta,” tambah Arifin.

Ketua Apindo Jawa Barat Deddy Wijaya menganggap kompensasi yang dijanjikan setelah insiden pemadaman listrik sebagai niat baik PLN, bahwa pihaknya tidak berusaha untuk mendapatkan keuntungan dari situasi tersebut.

“Kami menerimanya dengan baik. Kami tidak ingin memperpanjang masalah dengan menghitung kerugian dan semuanya, bukan itu tujuannya. Kami hanya ingin mengingatkan PLN untuk bekerja secara profesional dan lebih siap, sehingga kejadian seperti itu tidak akan terulang kembali, ”katanya, Selasa (6/8/2019)

Deddy mengungkapkan dia tidak bisa memperkirakan berapa kerugian setelah pemadaman listrik Jawa. “Kerugian akibat pemadaman listrik pasti tidak bisa dihindari. Ada kerugian yang bisa dihitung dan ada kerugian yang tidak bisa dihitung, seperti kepercayaan, yang lebih berharga daripada uang, ”katanya.

Dia berharap perusahaan yang dikelola pemerintah dan masyarakat bisa mengambil pelajaran dari kejadian itu. “Semua orang Indonesia di zaman now ini, tanpa listrik bisa dikatakan lumpuh.” [05]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: