Indonesia Siap Pakai Nuklir untuk Kebutuhan Listrik

Kepala BATAN, Anhar Riza dan Plt. Dirut PT Indonesia Power. (Batan)

kabar-energi.com – Indonesia sedang bersiap untuk menggunakan teknologi nuklir untuk merintis pembangkit listrik. Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Indonesia Power untuk kerja sama dalam penggunaan teknologi nuklir di sektor energi.

PT Indonesia Power adalah anak perusahaan PT PLN (Perusahaan Listrik Negara). Salah satu bidang kerja sama kedua pihak itu akan menjadi studi kelayakan tentang penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir.

MoU ditandatangani di Ancol, Jakarta Utara, pada 15 Agustus oleh Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan, dan penjabat direktur PT Indonesia Power, Ahsin Sidqi.

Lingkup kerja sama yang dicakup dalam MoU meliputi studi kelayakan tentang penggunaan energi nuklir untuk pembangkit listrik, serta potensi penggunaan thorium, uranium, dan radioisotop lainnya dalam baterai.

Perjanjian tersebut juga menyerukan kerja sama dalam pengembangan sumber daya manusia, pertukaran data dan informasi, mengatur pertemuan ilmiah, dan penggunaan fasilitas dan infrastruktur masing-masing.

“Siang ini, Indonesia Power akan memiliki MoU dengan Batan untuk mempersiapkan penelitian pada pembangkit listrik tenaga nuklir pertama di Indonesia, serta pengembangan baterai nuklir dengan Batan. Sehingga di masa depan , Indonesia Power tidak hanya akan menjadi perusahaan listrik, tetapi juga perusahaan energi,” kata Ahsin, Sabtu (17/8/2019).

Pada tahun 2014, Batan meluncurkan rencana untuk membangun Reaktor Daya Eksperimental (RDE) 10 MWt di situs pusat penelitian terbesarnya—Kompleks Puspiptek, di Serpong, Tangerang Selatan, Banten—sebagai tonggak strategis pertama untuk pengenalan armada pembangkit listrik tenaga nuklir skala besar untuk Indonesia.

RDE adalah reaktor berpendingin gas bersuhu tinggi yang dirancang di dalam negeri berukuran sangat kecil, high temperature gas-cooled reactor (HTGR) dengan bahan bakar uranium low-enrichmen TRISO oksida.

Pada bulan Maret 2018, Batan meluncurkan roadmap (peta jalan) untuk mengembangkan desain teknis terperinci untuk RDE. Roadmap ini merupakan kelanjutan dari desain rekayasa dasar RDE, yang selesai pada 2017. Dokumen desain teknis terperinci, bersama dengan laporan analisis keselamatan, akan menjadi persyaratan penting bagi Batan untuk mencapai persetujuan untuk desain RDE dari Badan Regulator Energi Nuklir Indonesia.

Batan mempromosikan pengenalan pembangkit listrik tenaga nuklir di Indonesia untuk membantu memenuhi permintaan energi di wilayah setempat. Pembangkit seperti itu akan menjadi start-up reaktor air ringan konvensional besar di pulau-pulau padat penduduk seperti Bali, Jawa, Madura dan Sumatra dari tahun 2027 dan seterusnya.

Selain itu, Batan juga berencana untuk menyebarkan HTGR kecil (hingga 100 MWe) di Kalimantan, Sulawesi dan pulau-pulau lain untuk memasok listrik dan panas untuk keperluan industri. Unit prototipe direncanakan untuk Kalimantan Barat.

“Dari hasil studi (kelayakan) kami akan menentukan langkah selanjutnya. Semoga Nota Kesepahaman ini bermanfaat tidak hanya untuk kedua institusi, tetapi untuk semua orang Indonesia,” kata Anhar menyambut penandatanganan MoU. [05/Sindonews]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: