Kepala BAPETEN: Integrasi Ilmu, Ulama adalah Ahli Iptek

Kepala BAPETEN Jazi Eko Istiyanto

kabar-energi.com – Kata “ulama” disebutkan dalam (35:27-28). Memang, hanya para ulama yang “takut” kepada Allah. Tetapi, (35:27) melukiskan adanya observasi alam semesta. Ketertinggalan ummat Islam dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, industri, dan peradaban, bermuara dari ditinggalkannya observasi alam semesta sebagai suatu bentuk “ritual”. Ulama telah mengalami penciutan makna. Hanya mereka yang menekuni ilmu agama. Tetapi buta science, technology, industry, manufacturing, supply-chain management, dan sebagainya. Akibatnya, semangat kebangkitan Islam abad 15H hanya melahirkan para ustadz, bukan para saintis, dan insinyur. Mahasiswa ikut ngaji, berpindah ke “mode ustadz”, meninggalkan “mode MIPA” atau “Mode Teknik”, misalnya.

Al-Quran menyebut observasi alam semesta dengan istilah “tafakkur”. Tafakkur disandingkan dengan dzikir pada (3:190-191) dan (34:46). Tugas seorang muslim adalah berdzikir dan bertafakkur. Sayangnya, hanya dzikir yang dianggap “sholeh”. Tafakkur dianggap sekuler, dan tidak Islami. Banyak buku agama karya para “ulama” membahas petunjuk dzikir (sholat adalah satu bentuk dzikir (20:14)). Tetapi, hampir tidak ada buku yang mereka tulis tentang petunjuk tafakkur. Padahal, observasi alam, ciptaannya, disebut lebih dulu dari pada perintahnya (7:54). Sementara ummat Islam hanya melihat perintah-nya (al-amru) sebagai yang wajib dipelajari, yang syar’i. Sedangkan ciptaanya (al-khalqu) dipandang tidak syar’i untuk dipelajari, dan diatribusikan sebagai bidang ilmu orang yang tidak percaya pada Tuhan.

Bulan April 2019, saya mengunjungi “BATAN” dan “BAPETEN” Morokko, dan menyempatkan diri mengunjungi Universitas Tertua, Jaami’ah al-Qarrawiyyin, di kota Fez, didirikan 859 M, oleh Fatimah al-Fihri. Universitas ini, tidak lain, adalah masjid. Pengajaran dilakukan dalam halaqah (circle). Tidak ada bekas-bekas laboratorium Fisika, Kimia, Biologi, Astronomi, dan sebagainya. Barangkali ini satu bukti bahwa science, technology, tidak dipandang sebagai suatu yang penting untuk dipelajari.

Science dan Technology adalah juga “Sunnah” para Nabi. Al-Quran mendorong berpikir ilmiah. Berpikir kritis. Tidak mudah menerima suatu pendapat (6:116). Bahkan al-Quran mengajari untuk menolak semua pendapat kecuali dari Allah sebagai ungkapan syahadat “Laa ilaha illa Allahu”. Al-Quran menunjukkan bahwa kalau ada kontradiksi, pasti bukan dari Allah (4:82). Al-Quran juga melarang mengadopsi dhon (conjecture, persangkaan) (53:28) dan mengajak kepada keyakinan, melalui riset alam semesta (4:157). Al-Quran melarang ummatnya mempercayai superstition, takhayul (4:51), dan apapun yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara scientific.

Nabi Daud menguasai teknologi pemrosesan logam, dan mengembangkan industri manufaktur (34:11). Nabi Daud diajari cara membuat protective clothing (shon’ata labus) : baju anti radiasi nuklir, baju anti api, baju anti bakteri, baju zirah, dsb (21:80). Daud juga menguasai iptek lingkungan, dan bagaimana ia bersahabat dengan alam semesta. Teknologinya tidak merusak lingkungan. Gunung dan burung-burung melantunkan pujian kepada Allah, bersama Daud (34:10). Sulaiman adalah pakar ilmu komputer dan elektronika. Dia menguasai interpreter bahasa semut (27:18-19), dan bahasa burung (27:16). Dia memiliki “drone” bernama burung Hud-Hud (27:20). Dia mengendalikan “robot-robot” yang bernama jin Ifrit seolah sebuah pabrik yang dioperasikan oleh robot (34:12-13). Nabi Nuh adalah pakar teknik perkapalan (11:37-38). Nabi Isa adalah pakar aviasi, rekayasa biologi, dan ekonomi “surveillance”. Dia membuat bentukan burung dari unsur tanah kemudian dia tiup (coding/programming? Multi-physics simulation?), maka jadilah dia burung terbang (“drone”?) dengan izin Allah. Dia juga menghidupkan orang mati dengan izin Allah (“human genome engineering”?). Dia juga mengetahui ummatnya menyimpan apa di rumahnya, serta mereka baru saja makan apa (Google, Facebook?) (3:49). Nabi Yusuf adalah pakar storage technology dan simulasi masa depan (forecasting, prediction, data analytics?). Dia mampu menyimpan gandum 14 tahun tanpa busuk (12:47-49).

Nabi Musa adalah pakar naval engineering. Dia, dalam waktu singkat, dapat membelah laut merah, dan menahan air laut agar tidak menenggelamkannya (26:63). Dia juga menguasai teknologi smart gadget, yang dapat berubah (“transformer”) menjadi ular (20:17-23). Dzul Qarnain adalah pakar structural engineering dan metallurgy. Dia membuat tembok campuran besi dan tembaga(18:96), dan tidak dapat ditembus, serta tidak dapat dilompati oleh malicious actors seperti Gog and Magog (18:97). Dia juga menguasai iptek kehandalan, mean-time before failure (18:98). Maryam sudah menguasai teknologi aplikasi pesan-antar makanan (3:37). Karena itu, para ahli ibadah, yang selalu berada di mihrab, seharusnya mengembangkan teknologi otomasi, robotika, Artificial Intelligence, dan sebagainya yang mengerjakan pekerjaan mereka, sementara mereka bersujud di mihrab. Perjalanan malam Nabi Muhammad seharusnya memberikan inspirasi bagi para pakar transportasi (17:1), mode transportasi apa? Hyperloop? Teleportation? Orang yang memiliki sebagian ilmu al-Kitab memindahkan (teleportation) singgasana Ratu Saba dalam sekejap mata (27:40), mengalahkan jin Ifrit (27:39). Nabi Ibrahim adalah pakar ornithology (ilmu tentang burung) (2:260).

Bagaimana para Nabi menguasai sains dan teknologi? Mereka memang menunjukkan mukjizat. Mukjizat untuk Nabi. Sains dan Teknologi untuk manusia biasa. Para Nabi memperoleh wahyu, tetapi Ibu Musa juga memperoleh “wahyu” (28:7), bahkan lebah juga memperoleh “wahyu”(16:68-69). “Wahyu” bagi non-Nabi sering disebut ilham, atau inspirasi. Yang menarik adalah “buthuniha” (her bellies, silakan dicek ke pakar lebah, lebah memiliki lebih dari satu perut!), seharusnya “bathniha”(her belly).

Sulaiman lebih unggul dari Ratu Saba. Padahal keduanya dikaruniai sumberdaya yang sama : uutinaa min kulli syai’in (27:16), dan uutiyat min kulli syai’in (27:23). Rahasianya apa? Rahasianya adalah Tauhid. Ratu Saba dan kaumnya mengabdikan hidup mereka kepada matahari, bukan kepada Allah, yang berakibat Setan membelokkannya dari jalan Allah (27:24). Bahkan, Ratu Saba tidak dikudeta oleh para jenderalnya yang sangat patuh kepadanya (27:33). Seharusnya, teknologinya hebat. Tetapi, kalah dari Sulaiman, karena melakukan kemusyrikan.

Bagaimana Nuh membangun kapal? Dengan inspirasi dan supervisi Allah (11:37). Alangkah semangatnya kita, bila pekerjaan iptek kita dibimbing dan diarahkan oleh Allah. Tetapi, para pengembang Iptek tidak akan lepas dari cercaan, dan hinaan orang, yang tidak visioner (11:38).

Selain itu, kata kunci “’ullimnaa”(we have been taught)(27:16), dan “’allamnaahu”(He has taught us)(21:80), serta “’allama al-insaan maa lam ya’lam” (He taught mankind what he knows not) (96:5). Integrasi ilmu pengetahuan dengan ilmu agama akan melahirkan insan yang menyadari bahwa semua ilmu datang dari Allah, dan bahwa riset itu menguak ilmu yang seluruh manusia belum tahu, bukan yang saya, atau Anda belum tahu. Dengan kata kunci ini, maka kekhawatiran para ustadz dan “ulama” bahwa pelajar science dan engineering bisa inkar kepada Allah atau sombong (eg Kaum Aad menguasai teknologi yang dilukiskan dengan “man asyaddu minnaa quwwatan” (who is greater than us in strength?) (41:15), atau Qarun, “inna maa uutituhu ‘ala ‘ilmin ‘indiy” (I got this because of my own knowledge only)(28:78)), tidak terjadi.

Buku yang sangat baik melukiskan Integrasi Iptek dan Ilmu Agama adalah karya Dr. Yusuf al- Qaradhawiy, al-‘aqlu wa al-‘ilmu fi al-qur’an al-kariem, yang diterjemahkan menjadi Al-Quran Berbicara Tentang Akal dan Ilmu Pengetahuan (Gema Insani Press, 1996). Sayangnya, mungkin tidak dicetak lagi.

*Penulis Prof. Dr. Ir. Jazi Eko Istiyanto, M.Sc., IPU., ASEAN Eng
Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN)
Guru Besar Elektronika dan Instrumentasi (ELINS) FMIPA UGM

 

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: