Pemerintah Menargetkan PLTN Kalbar Sudah Beroperasi Pada Tahun 2025

Ketua Pokja Penyiapan Pembangunan PLTN Prototipe dan Komersialisasinya di Indonesia sedang melakukan konferensi pers terkait penentuan calon Tapak PLTN di Kalimantan Barat (27/06/19).

 

kabar-energi.com. Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah mendukung perencanaan program pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang akan dicanangkan oleh pemerintah pusat sebagai upaya mendukung kemandirian energi nasional dan industrialisasi di Kalimantan Barat. Hal ini secara tegas disampaikan oleh Gubernur Kalbar,  H. Sutarmidji, S.H, M.H. dalam setiap pertemuan atau kegiatan yang berhubungan dengan iptek nuklir di Kalbar. “PLTN diperlukan untuk meningkatkan daya saing produk daerah kita yang kaya akan cadangan bauksit, program PLTN Kalbar saat ini sudah dalam proses pengkajian.” , ungkap Sutarmidji.

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, Kalbar merupakan daerah yang memiliki cadangan bauksit yang melimpah, yakni sekitar 3,8 milyar ton. Bauksit tersebut harus diolah dengan menggunakan pabrik smelter agar menjadi produk setengah jadi (semi-finishing product) berupa alumina sebagai bahan baku industri aluminium. Pembangunan pabrik Smelter Grade Alumina Refinery  (SGAR) telah dicanangkan oleh Menteri BUMN di Kabupaten Mempawah yang ditargetkan dapat beroperasi pada tahun 2020 dengan kapasitas produksi hingga 1 juta ton. Untuk mendukung industri tersebut, tentu diperlukan sumber energi listrik yang melimpah dan stabil agar produktivitas pabrik dapat terjamin. Kalbar termasuk daerah yang masih defisit energi listrik dan hampir 80% listriknya impor dari negara Malaysia sehingga sangat riskan apabila tidak diimbangi dengan pembangunan infrastruktur bidang energi listrik di Kalbar. Oleh karena itu, PLTN diyakini sebagai solusi dalam mengatasi permasalahan defisit energi listrik dan mendukung industri alumina karena dapat menghasilkan energi listrik yang melimpah, handal, stabil, dan bersih.

Pokja Penyiapan Pembangunan PLTN Prototipe dan Komersialisasinya di Indonesia sedang melakukan pelaporan terkait hasil studi banding delegasi Pemerintah Indonesia dalam Nuclear Energy Public Understanding Program yang diselenggarakan oleh JAIF International Cooperation Center di Tokyo, Jepang kepada Gubernur Kalimantan Barat di Kantor Gubernur Kalimantan Barat. (03/05/19)

Provinsi Kalbar juga memiliki cadangan bahan bakar PLTN, yakni uranium dan thorium yang sangat melimpah sebanyak 80.000 ton yang terletak di Kalan, Kabupaten Melawi. Hal ini tentu semakin mendukung untuk segera dibangunnya PLTN di Kalimantan Barat agar sumber daya alam yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk perekonomian daerah. “Kita itu punya bahan baku untuk tenaga nuklir yaitu uranium. Kualitasnya termasuk yang terbaik setelah NTT. Daerah kita yang menyimpan uranium adalah Melawi”, ucap Sutarmidji.

Sebagai informasi, uranium yang berada di alam masih berbentuk monasit yang terdiri dari 0,7 % Uranium-235 (U-235) dan 99,3 % Uranium-238 (U-238). Dalam reaksi fisi berantai yang terjadi di reaktor nuklir yang diperlukan hanya U-235 sehingga perlu dilakukan pra-pengolahan yang disebut dengan pengayaan U-235 agar mendapat kandungan U-235 yang lebih banyak daripada U-238. Proses pengayaan uranium ini di beberapa negara yang sudah memiliki PLTN dilakukan oleh lembaga khusus yang ditunjuk oleh negara dengan teknologi yang aman dan selamat serta diawasi langsung oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) dengan regulasi yang ketat. Hal ini untuk mencegah terjadinya dampak negatif penggunaan uranium untuk senjata nuklir yang dapat membahayakan manusia. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) juga telah memetakan delapan lokasi di Provinsi Kalbar yang cocok untuk pembangunan PLTN. “Dari beberapa tempat yang ada di Kalbar sangat memungkinan ada delapan titik daerah yaitu dari Kabupaten Sambas sampai ke Kabupaten Ketapang itu ada delapan titik pontensial. Nah kita akan pilih salah satu titik itu sesuai dengan kajian studi keekonomiannya,” ucap Agus Puji Prasetyono, Staf Ahli Bidang Relevansi dan Produktivitas Kemenristekdikti.

Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Penyiapan Pembangunan PLTN Prototipe dan Komersialisasinya di Indonesia, Dr. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng, IPU sedang melakukan konferensi pers terkait penentuan calon Tapak PLTN di Kalimantan Barat didampingi Gubernur Provinsi Kalimantan Barat, H. Sutarmidji, S.H., M.H., di Balai Petitih Kantor Gubernur Kalimantan Barat (27/06/19)

Provinsi Kalimantan Timur yang merupakan wilayah tetangga dari Provinsi Kalimantan Barat telah resmi ditetapkan oleh Presiden Jokowi sebagai calon Ibu Kota Negara Baru menggantikan DKI Jakarta. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/BAPPENAS) Bambang PS Brodjonegoro sudah membuat strategi terkait kesiapan kebutuhan energi di Ibu Kota baru yang ingin menerapkan konsep teknologi berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT). Menurutnya, dengan pengembangan EBT di Ibu Kota baru tidak akan menyebabkan krisis energi listrik. Bambang juga mengungkapkan peluang sumber energi ibu kota baru berasal dari tenaga nuklir karena Kalimantan merupakan satu-satunya pulau di Indonesia yang paling aman untuk mendirikan PLTN dan sekarang Kalbar sedang dalam proses pengkajian.

Senada dengan hal itu, peneliti dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Prof. Yohannes Sardjono menjelaskan bahwa roadmap pembangunan PLTN di Kalbar sudah disusun untuk jangka waktu tahun 2019-2024. “Roadmap pembangunan PLTN sudah disusun dan dikaji oleh BAPPENAS dan Kelompok Kerja (Pokja) Penyiapan Pembangunan PLTN Pertama Indonesia dengan jangka waktu tahun 2019-2024. Akan ada prototipe PLTN skala industri terlebih dahulu yang pembangunannya dimulai tahun 2020-2024 sehingga pada tahun 2025 ditargetkan sudah beroperasi,”ucap Prof. Yohannes Sardjono. Menurut  Prof. Yohannes Sardjono perlu adanya kekompakan antara pemerintah pusat dan daerah serta masyarakat lokal guna mendukung pembangunan PLTN yang pertama di Indonesia.

Selain itu, ia memastikan Sumber Daya Manusia (SDM) yang akan menangani PLTN  di Indonesia sudah sangat siap. Hal itu ditandai dengan Indonesia saat ini  mempunyai institusi pendidikan vokasi Diploma yang khusus mempelajari iptek nuklir dan aplikasinya, yaitu Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – BATAN yang ada di Yogyakarta. Kemudian di Universitas Gajahmada khususnya di Fakultas Teknik juga terdapat jurusan Teknik Fisika dan Teknik Nuklir. Sementara para ahli yang belajar dengan vendor PLTN atau institusi pendidikan energi nuklir di negara yang sudah memiliki PLTN seperti Jepang, Korea Selatan, Prancis, Amerika Serikat, Rusia dan lain-lain juga sudah banyak yang siap berkontribusi untuk PLTN Kalbar. Selain itu, Pemerintah Provinsi Kalbar saat ini telah memiliki 37 orang Sarjana Sains Terapan Nuklir hasil dari program beasiswa kelas khusus kerjasama dengan Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir – BATAN Yogyakarta dan pada tahun 2020 akan bertambah menjadi 47 orang. Hal ini tentu sangat mendukung karena putra-putri daerah Kalbar sudah sangat siap dan berkompeten untuk berkontribusi dalam program pembangunan PLTN Kalbar. (Rko)

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: