Defisit BPJS Kesehatan Bisa di Tekan Dengan Teknologi Kedokteran Nuklir

Hasil Pemeriksaan Bone Scan, Instalasi Kedokteran Nuklir RSUD AWS Samarinda Kaltim

kabar-energi.com – Dalam rangka memasyarakatkan akan pentingnya tenaga nuklir di bidang kesehatan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bekerja sama dengan Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI) menggelar Indonesia Nuclear Expo (NEXPO) 2019 berlangsung tanggal 6 – 7 September 2019 di Royal Ambarrukmo Hotel Yogyakarta, yang dihadiri sekitar 600 dari kalangan dosen, mahasiswa, peneliti, dokter, praktisi kesehatan, praktisi iptek nuklir, birokrat, industri dan masyarakat

Tema yang di usung “Encouraging Application of Nucelar Science, Technology, Innovation and Human Resources Development Towards Prosperous Indonesia”, bertujuan mengenalkan aplikasi teknologi nuklir kepada masyarakat.

Kepada tim redaksi kabar-energi Ketua Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI), Eko Purnomo, mengatakan bahwa penggunaan teknologi kedokteran nuklir memungkinkan defisit biaya yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan bisa berkurang.

“Contohnya bagi masyarakat untuk pengobatan kanker getah bening tanpa harus melalui operasi yang menelan biaya banyak dan itu bisa dilakukan oleh ahli kedokteran nuklir,” kata Eko, Minggu (8/9/2019).

Teknologi nuklir untuk dunia medis telah lama digunuakan, namun orang sakit masih takut dengan kata nuklir. Padahal pengobatan medis dengan teknologi nuklir justru lebih efisien dan lebih irit biaya. Bahkan mayoritas penyakit dengan penyembuhan teknologi nuklir ditanggung dengan BPJS Kesehatan.

Selama ini yang ada di benak masyarakat nuklir sesuatu yang mengerikan. Namun sebetulnya teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk pengobatan berbagai penyakit termasuk kanker ganas yang menjadi salah satu penyebab tingkat kematian tinggi di Indonesia pada penyakit tidak menular.

Dari kiri Deputi pendayagunaan teknologi nuklir, Hendig Winarno, Ketua perhimpunan kedokteran nuklir, Eko Purnomo, Kepala Batan, Anhar Riza Antariksawan, Pakar Kedokteran Nuklir, Johan Mansyur, Dokter Nuklir Rs. Hasan Sadikin, Husein Kartasasmita, Ketua STTN, Edy Giri Rachman Putra. (Foto : Ist)

Bandingkan dimana biaya pengobatan kanker ganas getah bening dengan metode operasi hingga proses penyembuhan dengan kemoterapi satu paketnya bisa menelan hingga menghabiskan Rp 100 juta.

Eko menambahkan bahwa teknologi nuklir yang digunakan dalam dunia medis masih belum banyak diterima masyarakat padahal sangat aman dalam hal pengobatan. Para ahli kedokteran nuklir juga masih terus mengembangkan teknologi  untuk penyembuhan kanker ganas lainnya seperti kanker prostat dan penyakit jantung serta kanker servic dan kanker payudara serta

Untuk penyakit jantung teknologi nuklir mampu menekan operasi pemasang ring pada syaraf di jantung yang sudah lemah berfungsi. Dengan menggunakan teknologi nuklir bisa mengetahui syaraf mana yang mati sehingga apakah perlu dipasang ring atau tidak.  Sehingga dapat menekan biaya yang harus dikeluarkan BPJS dan hanya perlu pengobatan biasa saja.

Keberadaan dokter ahli nuklir di Indonesia sendiri masih sangat terbatas dan kini jumlahnya hanya 60 orang saja. Ditambah lagi dengan teknologi dan alat kesehatan untuk aplikasi teknologi nuklir dalam bidang kesehatan sangat mahal.

Rumah sakit yang sudah menggunakan menyembuhkan penyakit kanker dengan teknologi kedokteran nuklir saat ini masih terbatas. Sejumlah fasilitas kesehatan tersebut diantaranya berada di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur 1 rumah sakit, Medan baru 1 rumah sakit, di Jakarta 7 rumah sakit, di Bandung 2 rumah sakit, di Semarang 1 rumah sakit dan Yogya yaitu RSUP Sardjito masih dalam proses pengembangan. [05/Napri]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: