Hasil Radiasai Nuklir, Panen Padi Hasilkan Lebih Banyak dan Cepat

Tampak Petani menunjukkan varietas baru Rojolele Srinar dan Srinuk hasil radiasi sinar gamma. (BATAN)

kabar-energi.com – Penggunaan teknologi nuklir tidak hanya dikenal sebagai senjata pemusnah massal. Tetapi nuklir juga dapat digunakan untuk tujuan damai dan bisa bermanfaat untuk masyarakat, seperti halnya meningkatkan kualitas varietas padi.

Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dengan teknologi nuklir yang dimiliki berhasil memperbaiki varietas padi Rojolele Srinar dan Rojolele Srinuk di terletak di Kawasan Agro Techno Park (ATP), di Klaten, Jawa Tengah.

BATAN bekerjasama dengan pemerintah Kabupaten Klaten yang pada 2013 lalu datang meminta adanya penelitian untuk menyempurnakan kualitas tanaman padi jenis Rojolele.

Kepala PAIR, Totti Tjiptosumirat mengungkapkan bahwa keberhasilan tersebut merupakan komitmen BATAN dalam penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai, khususnya di bidang pertanian. Disamping itu juga, keberhasilan ini dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa tidak hanya untuk senjata dan energi saja, pemanfaatan teknologi nuklir dapat dimanfaatkan untuk berbagai bidang.

“Hasil perbaikan varietas padi lokal Rojolele ini merupakan bukti  komitmen BATAN dalam memanfaatkan teknik nuklir bagi kesejahteraan masyarakat. Selain itu, BATAN juga membuktikan bahwa teknologi nuklir bukan hanya dikenal sebagai pemusnah massal dan juga hanya energi nuklir, yang hingga saat ini banyak masyarakat yang mempunyai prersepsi negatif pada energi nuklir, namun teknologi nuklir dapat dimanfaatkan di bidang lain, seperti pangan,” kata Totti, Rabu (23/10/2019)

Image result for Panen perdana varietas Rojolele Srinuk dan Rojolele
Panen perdana varietas Rojolele Srinuk dan Rojolele Srinar di Kawasan Agro Techno Park (ATP), Klaten, Jawa Tengah, Selasa (22/10/2019). (Harminanto)

Hasil penelitian menghasilkan Srinuk dan Srinar dimana kedua jenis padi tersebut memiliki beberapa keunggulan dibandingkan Rojolele induk diantaranya masa panen yang lebih singkat hingga 35 hari, mempunyai umur lebih pendek yakni kurang dari 120 hari sedangkan umur induknya mencapai 165 hari. Tinggi tanaman sekitar 105 cm sehingga tidak mudah rebah, sedangkan induknya 155 cm yang selalu rebah sebelum panen karena terlalu tinggi

Disamping itu juga Srinuk dan Srinar mempunyai ketahanan hama penyakit lebih baik dan tingkat produksi lebih tinggi yang mencapai hingga 9 ton/ha bila dibandingkan dengan induknya yang hanya mencapai 7 ton/ha. Selain itu, mutu fisik beras dan mutu organoleptik (rasa nasi, aroma) setidaknya sama dan bahkan cendrung lebih baik dibandingkan induknya.

launching sekaligus panen perdana Rojolele Srinuk dan Srinar langsung dilakukan oleh Bupati Klaten Sri Mulyani. Sri menyampaikan harapan agar dua varietas padi yang dinilai lebih baik dari indukan Rojolele tersebut bisa ditanam secara massal dan meningkatkan kesejahteraan petani khususnya di Kabupaten Klaten. [05]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: