Dengan Teknologi Daun Buatan, Ilmuwan Ciptakan Bahan Bakar Terbarukan

kabar-energi.com – Kini para ilmuwan  dari University of Cambridge, Inggris berhasil membuat bahan bakar cair sintetis dari “daun” artifisial bertenaga surya, yang dapat menyedot sinar Matahari, karbon dioksida, dan air untuk menghasilkan gas sintesis, gas yang bisa dimanfaatkan untuk alternatif untuk bahan bakar gas fosil.

Ahli kimia di Universitas Cambridge berhasil mengembangkan perangkat yang terinspirasi dari fotosintesis. Setelah tujuh tahun melakukan penelitian, para ahli kemudian menciptakan artificial leaf.

Layaknya daun sungguhan, daun buatan ini tidak membutuhkan sinar Matahari yang cerah untuk berfungsi.

Daun tersebut akan bekerja secara efisien bahkan dimana cuaca hujan atau mendung. Dengan kata lain, teknologi tersebut tidak akan terpengaruh dengan musim.

Daun ini menggunakan tenaga surya untuk menghasilkan bensin sintetis yang ramah lingkungan.
Tampak Daun  menggunakan tenaga surya untuk menghasilkan bensin sintetis yang ramah lingkungan.(VIRGIL ANDREI/UNIVERSITY OF CAMBRIDGE)

“Kita dapat menggunaannya mulai pagi hari hingga malam di mana pun di seluruh dunia,” ungkap ahli kimia Erwin Reinser dari University of Cambridge, seperti dikutip dari Science Alert, (28/10/2019).

Daun buatan menggunakan nanotube karbon dengan dua penyerap cahaya yang dikombinasikan dengan katalis yang terbuat dari kobalt.

Setelah direndam dengan air, reaksi akan dimulai dengan satu penyerap cahaya menggunakan katalis agar menghasilkan oksigen, sedangkan penyerap lainnya melakukan reaksi kimia untuk mengurangi karbon dioksida dan air mengjadi karbon monoksida dan hidrogen.

Ketiga gas ini adalah dasar dari gas sintesis. Gas sintesis memiliki sekitar setengah dari kepadatan energi alami, tapi gas itu memiliki beberapa kegunaan dalam produksi bahan bakar cair dan dianggap sebagai sumber energi terbarukan.

Selain menciptakan gas sintesis dan mengkonversinya menjadi bahan bakar cair, kemudian selanjutnya adalah membuat bensin cair yang terbuat dari karbon dioksida dan air,” tambah Erwin Reinser. [05]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: