Tarif Dasar Listrik Kalimantan Dapat Diturunkan Dengan Thorcon

Thorcon International Goes to Campus

kabar-energi.com – Bertempat di Fakultas Teknik Universitas Nahdatul Ulama Kalimantan Barat, Sabtu, (30/11/2019) bekerjasama dengan Thorcon International diadakan seminar tentang pemanfaatan energi nuklir bagi kesejahteraaan masyarakat, dengan tema “Pemanfaatan Teknologi Nuklir di Indonesia dan Penyediaan Energi Jangka Panjang Guna Mendukung Kemajuan Kalimantan Barat”.

Dimana Pulau Kalimantan telah ditetapkan sebagai Ibu Kota Negara (IKN) Indonesia, diperlukannya dukungan dalam hal pasokan energi listrik

Dalam Sambutannya Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalbar Rahmat Saputra  yang juga sebagai peneliti PLTN mengungkapkan bahwa PLTN adalah pembangkit listrik yang paling aman di dunia yang dapat dilihat dari jumlah kematian yang paling terkecil, tidak lebih dari 40 orang dalam 50 tahun di banding pembangkit lainnya.

Sementara itu Ismail Yusuf, pakar energi terbarukan dari Universitas Tanjung Pura mengatakan, “energi terbarukan seperti angin dan surya tidak dapat menggantikan PLTU batubara sebagai energi primer yang dapat menggantikan adalah PLTN dengan kapasitas besar untuk kebutuhan listrik bagi Industri. PLTS dapat dimanfaatkan untuk daerah-daerah yang terpencil khusus untuk penerangan atau isolated grid dimana PLN tidak masuk,”

 

Dekan Fakultas Tehnik Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Reza Wahyudi memberikan plakat kepada kepala Perwakilan Thorcon International Bob S. Effendi,  didampingi Rektor UNU Kalbar Rachmat Sahputra, (30/11/2019). (ist)

“Dengan hanya sekitar 3000 MW total kapasitas di Kalimantan dengan BPP sekitar 12 sen dan TDL 10 sen maka bila ada penambahan PLTT 3000 MW dengan BPP 6 sen maka rata-rata BPP Kalimantan akan turun menjadi 9 sen per kwh jauh di bawah TDL yang dikisaran 10 sen per kwh maka tidak ada alasan TDL tidak dapat turun, bukan saja akan mendorong tumbuhnya industri di Kalimantan tetapi juga akan memperbaiki bottom line PLN yang selama ini mensubsidi wilayah di luar Jawa,” ungkap Bob S. Effendi, kepala Perwakilan Thorcon International kepada redaksi kabar energi, Senin, (2/12/2019)

Ditambahkan Bob sesungguhnya dari Pemerintah tidak ada masalah dengan PLTN, bahkan Menteri ESDM, Arifin Tasrif sudah mengatakan bahwa sepakat PLTN tapi asal murah. Menristek/Kepala BRIN mengatakan bahwa PLTN sebaiknya dibangun tanpa APBN bisa melalui Investasi swasta. Salah satu permasalahan adalah tidak adanya kajian komprehensif tentang PLTN yang di berikan Presiden sampai saat ini.

Sebagaimana diketahui bahwa Thorcon dan P3Tek Balitbang ESDM telah melakukan kerjasama kajian pemanfaatan energi dari penawaran Thorcon, dimana telah memenuhi harapan Pemerintah, yaitu murah dapat besaing dengan batubara, keselamatan tinggi, bahkan menjamin kejadian Fukushima tidak mungkin terjadi dan dibangun dengan skema IPP atau tanpa APBN sebagai solusi untuk masuk pada bauran energi 2026 – 2027

Thorcon International, akan melakukan investasi sebesar Rp 17 Triliun dengan membangun PLTT 500 MW di Indonesia dan telah bekerjasama dengan PT PAL untuk memproduksi beberapa komponen termasuk reaktor.

Bob meyakini bahwa Pemerintah Indonesia akan menyetujui proposal Thorcon yang memenuhi standar Pemerintah dan akan mengirimkan kajian P3Tek kepada Presiden dalam waktu dekat untuk segera mendapatkan keputusan sehingga program ini dapat berjalan.

Sementara itu Reza Wahyudi, Dekan Fakultas Teknik mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada rencana yang jelas dari Pemerintah Propinsi tentang rencana PLTN di Kalimantan Barat seperti siapa yang akan jadi investor dan berapa tarif listriknya.

“Thorcon memiliki rencana yang sangat jelas dan terstruktur serta penawaran yang sangat menarik mengapa tidak Pemerintah Provinsi mempertimbangkan penawaran Thorcon,” ujar Reza. [05]

Tinggalkan Komentar

%d bloggers like this: